Cara Menghadapi Fitnah

Bagaimana Cara Menghadapi Fitnah – Dimusuhi, dibenci, dicaci, difitnah atau diperangi. Tak ada manusia yang suka dengan suasana-suasana hidup seperti itu. Karenanya, di antara perjalanan hidup yang paling buruk adalah saat kita melewati proses hidup yang melahirkan musuh, mendatangkan kebencian, mengundang caci maki, atau mengobarkan perang.

Cara Menghadapi Fitnah

Cara Menghadapi Fitnah

Masalahnya, perjalanan hidup ini mengajarkan, bahwa dimusuhi, dibenci, dicaci, dan segala bentuknya juga mempunyai hikmah. Hikmah itulah yang kemudian mempunyai korelasi dengan firman Allah swt kepada Rasulullah saw yang artinya,

Maka, orang yang semula terdapat permusuhan antara dirimu dan dia, sepertinya terjadi hubungan yang sangat dekat.. “ (faidzalladzii bainaka wa bainahu adawatun kaannahu waliyyun hamiim)

Berlindunglah Kepada Allah Ta’ala dari fitnah, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sering sekali berdoa meminta perlindungan dari Allah agar tidak terkena fitnah.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan sudah memperingatkan umatnya akan timbulnya fitnah, sebagaimana dalam sebuah hadits shahih:

Sesungguhnya menjelang terjadinya Kiamat ada fitnah-fitnah seperti sebagian malam yang gelap gulita.” (HR. Abu Dawud).

Fitnah jika sudah datang maka akan datang bersamaan dengannya kerusakan sampai hari kiamat. Allah Ta’ala telah memperingatkan adanya fitnah, coba perhatikan firman-Nya: Artinya: “Dan peliharalah dirimu dari pada fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. (QS. 8:25).

Makna fitnah adalah sesuatu yang genting, berubah-rubah, tidak ada stabilitas dan semisalnya, akibat dari penyimpangan terhadap ajaran islam. Hidup pada akhir zaman yang serba sekuleristik ini, kita memang harus kritis dalam menyikapi isu-isu yang ada. Bila kita menoleh kebelakang maka akan didapati bahwa semua ini pasti ada kaitannya dengan mega proyek “War on Ter0rr1sm” yang sedang digalakkan oleh kafir Barat dan para antek-anteknya untuk membendung bangkitnya Islam.

Kita tidak perlu takut dengan segala rintangan ini, karena semua ini merupakan sunnatullah sebuah perjuangan dalam menegakkan Islam. Rasul saw. pun telah memprediksi hal ini sebagaimana dalam sabdanya “Sesungguhnya di belakangmu nanti akan ada hari-hari penuh kesabaran. Sabar pada hari itu seperti halnya memegang bara api.” (HR Abu Dawud).
Kaidah-kaidah penting untuk seorang muslim dalam menghadapi fitnah:

  • Jika timbul fitnah, maka hendaklah hadapi dengan sikap hati-hati, tidak gegabah dan penuh kesabaran.
  • Tidak menghukumi sesuatu kecuali sesudah mengetahui kejadian sebenarnya
  • Hendaklah selalu memegang sikap adil

Gaees, Jika kita telah yakin berada di jalan yang benar, kita tidak perlu khawatir dan takut dengan permusuhan atau kebencian yang muncul. Kita harus bisa menerima perbedaan, perselisihan, bahkan mungkin kebencian dan fitnah sebagai bagian dari alur hidup ini. Ini memang jalan hidup yang telah menjadi sunnatullah. Andai hidup ini mungkin berjalan tanpa ketidaksepakatan, tanpa perbedaan, tanpa permusuhan, tanpa perselisihan, tentu manusia yang tidak dibenci, yang tidak dimusuhi, yang tidak diperangi, adalah manusia mulia, utusan Allah, Rasulullah Muhammad saw. Ketinggian akhlaknya bahkan disebutkan oleh Al Qur`an, “Sungguh engkau berada di atas akhlak yang mulia… “

Tapi toh kemunafikan tetap saja ada di antara para sahabatnya. Bahkan penolakan, kebencian, fitnah, upaya pembunuhan, penghinaan juga muncul dari orang yang pernah bertemu dengannya. Itulah karena pertentangan antara kebenaran dan kebthilan itu memang seusia dengan umur manusia ada. Itulah juga karena ada yang dinamakan hizbullah (pasukan Allah) dan hizbusyaithan (pasukan syaithan), ada auliya-urrahman (para pembela Ar Rahman) dan aulia-u syaithan (para pembela syaithan).

Semua ini membuktikan bahwa memiliki musuh tidaklah buruk. Memiliki musuh berarti ada lawan yang harus dikalahkan, ada rival yang mesti ditaklukkan. Memiliki musuh akan membuat kita berpikir mengenai teknik ataupun strategi apa yang akan dijalankan, kapan menyerang, dan kapan bertahan. Memiliki musuh akan timbul harapan dan perjuangan untuk mencapai keberhasilan.

Bukankah kalau mau hidup aman, kita harus siap untuk berperang? Ingat juga, bahwa musuh, tidak harus nyata dan kasat. Karena musuh ada yang nyata, dan ada yang tidak nyata. Setan melalui godaannya adalah musuh yang tidak nyata. Tapi itu menjadi musuh utama. Hawa nafsu, amarah, dan keinginan bertindak salah juga musuh yang juga harus ditaklukkan.

Ini hanya bagian dari kehidupan yang harus kita hadapi. Tapi bukan pula karena hal ini berarti kita justru menciptakan permusuhan dan mengundang perselisihan. Kita hanya wajib berpegang pada sesuatu yang kita yakini kebenarannya di sisi Allah swt.

Pencarian artikel terkait: cara menghadapi fitnah dari orang, kaidah syariah dalam menghadapi fitnah, cara menghadapi fitnah dalam islam, cara menghadapi fitnah akhir zaman, cara menghadapi fitnah menurut islam, cara menghadapi fitnah dajjal, cara menghadapi fitnah dari orang lain, artikel fitnah dalam islam